Berpisah Setelah Khulu’ (Bagain Empat)

 

salaf46BERPISAH SETELAH KHULU’

(Bagian Keempat dari Pembahasan Khulu’ dalam Islam)
(Al Ustadz Abu Umar Ibrahim Hafizhahullah)

Pembaca rahimakumullah…
Kali ini, pembahasan ini mungkin agak/sulit dipahami oleh sebagian pembaca dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis untuk membahasakannya, dan terdapat istilah yang mungkin baru dikenal oleh sebagian pembaca.
Semoga dengan keseriusan dalam membaca, Allah bukakan pemahaman yang baik dan benar kepada para pembaca.
Bagi yang masih kesulitan, bisa bertanya kepada asatidzah di sana.
Barakallahu fiikum.

Kaum muslimin rahimakumullah…. Setelah terjadi kesepakatan antara suami dan istri untuk berpisah, dan suami menerima tebusan dari pihak istri, terjadilah apa yang disebut dalam istilah syariat dengan khulu’.

Lalu apa yang terjadi setelah khulu’?
Khulu’ dalam syariat Islam menyebabkan pernikahan seseorang menjadi faskh (batal).
Sehingga apabila khulu’ telah terjadi, batallah/gugurlah ikatan pernikahan antara mereka berdua (suami istri).

Bagi pihak laki-laki, dengan khulu’,  wanita  yang semula adalah istrinya, kini dia bukan lagi istrinya.
Bahkan dia telah menjadi orang asing (ajnabiyyah/bukan mahram).
Di negeri kita, dia disebut sebagai mantan istri bagi laki-laki tersebut, sedangkan dirinya disebut dengan duda.

Adapun bagi wanita,
laki-laki itu bukan lagi suaminya. Sebab, ikatan pernikahannya sudah gugur dengan khulu’.
Wanita itu kini berstatus sebagai janda.

Pembaca rahimakumullah…
Yang perlu Anda pahami dengan baik, bahwa khulu’ menyebabkan  pernikahan menjadi faskh (batal/gugur).

Jadi, khulu’ berbeda dengan talak.
Khulu’ tidak termasuk dalam hitungan talak.

Sebagai misal,
kalau suami menalak istrinya,
dan sudah jatuh talak dua sebelum terjadinya khulu’
maka ketika terjadi khulu’,
tidak teranggap sebagai talak tiga.

Kalau teranggap sebagai talak tiga, berarti telah terjadi bainunah kubra (talak ba’in).
Kalau sudah terjadi talak ba’in
berarti dia sudah tidak boleh dinikahi lagi oleh mantan suaminya
sampai dia menikah dengan orang lain, lalu diceraikan oleh suaminya.

Akan tetapi, kalau khulu’ teranggap faskh, berarti dalam kasus di atas, tidak terhitung sebagai talak tiga dan bainunah kubra,
tapi hanya bainunah syughra (artinya ikatan nikahnya putus, hanya saja dia boleh menikah lagi dengan wanita tersebut, tapi dengan akad baru dan  dengan keridhaan wanita, tanpa dipersyaratkan wanita tersebut harus  menikah dulu dengan orang lain sebagaimana pada bainunah kubra).

Memang terjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan para ulama, apakah khulu’ termasuk talak atau tidak (faskh).
Namun, pendapat yang dirajihkan oleh Syaikhuna Abdurrahman al-’Adeny hafizhahullah bahwa khulu’ termasuk faskh.

Dalil dalam perkara ini adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali (talak satu dan dua). Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya (KHULU’). [al-Baqarah: 229]

Perhatikan, wahai pembaca rahimakumullah,
setelah Allah Ta’ala menyebutkan dalam ayat di atas bahwa talak (raj’i/yang dapat dirujuki) itu dua kali, Allah melanjutkan dengan menyebutkan khulu’, dan setelah itu pada ayat berikutnya Allah Ta’ala menyebutkan talak tiga.
Allah berfirman dalam ayat setelahnya (yang artinya), “Kemudian jika suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia menikah lagi dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk menikah kembali….” [al-Baqarah: 230]

Berarti Allah menyebutkan khulu’ di antara tiga talak (talak satu dan dua, khulu’, baru talak tiga).

Kata Syaikhuna hafizhahullah Ta’ala, “Ini menunjukkan bahwa khulu’ itu terhitung faskh dan bukan terhitung talak.”

Dalil yang kedua bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan wanita yang dikhulu’ untuk menjalani masa ‘iddah sampai satu kali haidh.

Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa khulu’ itu terhitung faskh bukan talak.
Karena kalau terhitung talak, berarti masa ‘iddahnya bukan satu kali haidh (akan datang pembahasan talak dan masa ‘iddahnya, insya Allah).

Wallahu a’lam bish shawab.

Nantikan bagian kelima dari Pembahasan ‘Khulu’ dalam Islam’, insya Allah.

Fawaid dari dars Manhajus Salikin bab: al-Khulu’,
oleh Syaikhuna Abdurrahman al-’Adeny hafizhahullah Ta’ala di Markiz Daril Hadits al-Fiyush.
Semoga Allah Ta’ala selalu menjaganya dari segala makar, dan keburukan.

Sumber: Forumsalafy.net