DIMANA DIRI KITA DIBANDING MEREKA (PARA SALAF)

MEREKA DALAM MENGINGAT KEMATIAN

Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata:

طوبي لمن ذكر ساعة الموت, وما أكثر عبد ذكر الموت إلا رؤي ذلك في عمله.

“Beruntunglah bagi yang mengingat saat datangnya kematian. Tidaklah seorang hamba memperbanyak mengingat kematian kecuali akan terlihat (pengaruhnya) pada amalannya.”

Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata:

إذا ذكرت الموتي فعد نفسك كأحدهم.

“Apabila diingatkan mengenai orang-orang yang sudah mati, maka anggaplah dirimu termasuk salah seorang di antara mereka.”

Sebagian orang bijak memberi nasehat:

ياأخي, احذر الموت هذه الدار, قبل أنتصير إلي دار تتمني فيها الموت فلا تجده.

“Wahai Saudaraku..! waspadalah dari kematian di dunia ini, sebelum engkau menemui suatu negeri, yang engkau mengharapkan/mengangankan kematian di sana namun engkau tidak menemukannya !”

Abud Darda  radhiyallahu’anhu  berkata:

ألا أخبركم بيوم فقري؟يوم أنزل قبري.

“Maukah kukabarkan pada kalian tentang hari kefakiranku? Yaitu hari  ketika aku turun ke dalam kuburku.”

Ketika Abdul Malik bin Marwan mendekati saat kematiannya, beliau berkata:

والله لو ددت أني عبد لرجل من تهامة أرعي غنيمات في جبالها ولم ألي.

“Demi Allah, sungguh aku berangan aku hanyalah seorang budak milik lelaki dari Tihamah yang menggembala kambing-kambing di pebukitannya dan bukan seorang pembesar/penguasa.”

Ada yang bertanya kepada Muhammad bin Wasi’ rahimahullah:

كيف أصبحت؟ قال: ماظنك برجل يرتحل كل يوم مرحلة إلي الآخرة.

“Bagaimana keadaanmu pagi ini?”. Beliau menjawab: “Bagaimana menurutmu tentang seseorang yang sedang menempuh perjalanan setiap harinya tahap demi tahap perjalanan menuju akhirat.”


أين نحن من هؤلاء.

Sumber: Fawaid Salafy Wawondula

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.