HUKUM WUDHU DAN SHALAT SEORANG YANG TIDAK DAPAT MENAHAN KENCING

FATWA

HUKUM WUDHU DAN SHALAT SEORANG YANG TIDAK DAPAT MENAHAN KENCING

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz رحمه الله

Saya memiliki seorang ibu yang sudah lanjut usia.

Pinggulnya tidak dapat menguasai sesuatu yang keluar dari dua jalan sehingga ia terpaksa memakai pembalut. Setiap kali masuk waktu shalat dan ia menunaikan shalat, terkadang ia dalam kondisi tidak suci karena adanya sesuatu yang keluar dari salah satu diantara dua jalan tersebut yang ia tidak mampu menguasainya meskipun hanya setengah jam. Maka saya mohon agar pertanyaanku ini disampaikan kepada Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz.

Apa hukum shalat beliau dalam kondisi semacam ini?

Dan bagaimana hukumnya bila ia tidak mampu lagi berpuasa dikarenakan mengidap penyakit gula dan harus makan dan minum setiap 6 jam?[1]

Jawaban:

Wajib baginya beristinja (cebok) dan berwudhu setiap kali hendak shalat. Dan ia berusaha menjaganya setiap waktu dengan sesuatu yang suci.

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam kepada seorang wanita yang mengalami istihadhah:

توضئ لوقت كل صلاة

“Berwudhulah engkau setiap kali waktu shalat.” [2]

Semisal wanita yang mengalami istihadhah ialah lelaki maupun perempuan yang mengalami salisul baul yaitu air kencing terus menerus keluar (menetes) baik di saat shalat maupun di luar waktu shalat.

Adapun puasa, maka tidak mengharuskannya untuk berpuasa. Apabila ia lemah dan tidak mampu berpuasa, maka wajib mengqadha setelah ia sembuh. Ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر

“Barang siapa yang sedang sakit atau dalam perjalanan (kemudian ia berbuka), maka ia menggantinya di hari-hari yang lain.” [3]

Kecuali bila sakitnya terus menerus dan tidak diharapkan lagi kesembuhannya berdasarkan keputusan dari dokter specialis, maka ia memberi makan seorang miskin dari tiap hari yang ia berbuka padanya dan tidak diwajibkan berpuasa seperti kakek yang sudah tua, wanita lemah yang sudah lanjut, dan orang-orang yang tidak mampu berpuasa.

Ia boleh menggabungkan kafarah tersebut dan mengeluarkannya di awal bulan atau akhir bulan kepada satu orang miskin atau lebih. Sedangkan ukuran kaffarah tersebut adalah setengah sha’ dari makanan pokok penduduk daerah setempat untuk tiap hari yang ia berbuka padanya.

Timbangannya kurang lebih satu setengah kilo gram (1,5 kg). Allah sajalah yang maha pemberi taufik.

Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/node/4317

Catatan Kaki:

1]. Dari Asilatul Majallatil ‘Arabiyah
2]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Kitabul Wudhu’, bab Ghaslud Dam no. 228
3]. Surat al-Baqarah: 185

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.