Salafy Sorowako

Radio Suara Sunnah Sorowako || Menebarkan Ilmu Berdasarkan Al-Qur'an dan As Sunnah

Dec

23

Khulu’ Dalam Syariat Islam (1)

By salafysorowako

 

salaf40KHULU’  DALAM SYARIAT ISLAM  (Bagian Pertama)

Asy-Syaikh Abdurrahman al-’Adeny menyampaikan muqaddimahnya  tentang khulu’:

Khulu secara bahasa diambil dari melepas (pakaian).
Maka, khulu’ berarti seorang istri melepas ikatan pernikahan dari suaminya, seperti halnya dia melepas pakaiannya.
Karena istri adalah pakaian bagi suami, dan suami adalah pakaian bagi istri.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” [al-Baqarah: 187]

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya Manhajus Salikin, ” Khulu’ adalah seorang suami menceraikan istrinya dengan pemberian ‘iwadh (tebusan) dari pihak istri kepada suami.
Landasan khulu’ adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” [al-Baqarah: 229]

Syaikhuna Abdurrahman al-’Adeny hafizhahullah menjelaskan:

(Khulu’ diperbolehkan dalam Islam)  dikarenakan hubungan antara suami istri dibangun di atas rasa cinta, kasih, dan sayang.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan di antara tanda-tanda  kekuasaan Allah adalah Dia menciptakan untukmu para istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” [ar-Ruum: 21]

Ulama berkata, “Secara umum, tidak ada hubungan cinta yang lebih besar daripada ikatan cinta yang terjadi pada suami istri. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya.”

Istri adalah pakaian bagi suami,
dia ibarat tempat tidur, tempat untuk mendapatkan ketenangan dan ketentraman, dan dia adalah manusia yang paling dekat denganmu.

Sehingga, apabila tidak ada lagi perasaan cinta kepada suaminya, hidup tak bahagia dan tentram bersamanya, padahal hal itu merupakan tujuan disyariatkannya pernikahan -bahkan yang terjadi justru rasa benci, tidak suka, dan terus berselisih-
jika hal itu muncul dari keduanya, atau dari suami saja, suami bisa mengamalkan apa yang Allah perintahkan dalam al-Quran (yang artinya), “Engkau rujuk kembali dengan cara yang ma’ruf, atau menceraikannya dengan cara yang baik.” [al-Baqarah: 229]

Tapi, apabila ketidakcintaan itu munculnya dari istri,
sedangkan suami sebenarnya masih cinta kepadanya,
masih memenuhi hak-hak istri,
dan mempergaulinya dengan cara yang baik sebagaimana
yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, apa yang harus dilakukan oleh istri?

Kalau istri terus dipaksa hidup bersamanya, dia khawatir tidak bisa memenuhi hak suami dengan baik.
Istri khawatir akan terus terjatuh ke dalam maksiat dan dosa.

Lalu, bolehkah istri minta cerai?
Bagaimana syariat Islam mengatur permintaan cerai dari istri kepada suaminya?
Nantikan pada tulisan berikutnya, insya Allah.

Fawaid dari dars Manhajus Salikin bab: al-Khulu’,
oleh Syaikhuna Abdurrahman al-’Adeny hafizhahullah Ta’ala di Markiz Daril Hadits al-Fiyush.
Semoga Allah Ta’ala selalu menjaganya dari segala makar, dan keburukan.

Faidah dari Al Ustadz Abu Umar Ibrohim Fiyuz Yaman

Sumber: Forumsalafy.net

Comments are closed.