Khulu’ Dalam Syariat Islam (Bagian Ke 2)

KELUARGA

 

salaf44bMAAFKAN AKU, YANG TIDAK BISA MENCINTAIMU…. 
(Bagian Kedua dari Pembahasan Khulu’ dalam Islam)

(Al Ustadz Abu Umar Ibrahim Hafizhahulloh)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Jika istri tidak suka terhadap perangai atau fisik suaminya, dan dia khawatir tidak bisa menjalankan hak-hak suami yang diwajibkan atasnya, tidak mengapa bagi istri untuk memberikan ‘iwadh (tebusan) kepadanya agar dia mau menceraikannya.

ALASAN ISTRI MINTA KHULU’ 
Syaikhuna Abdurrahman al-’Adeny hafizhahullah Ta’ala menjelaskan:

Syaikh as-Sa’di menyebutkan beberapa alasan seorang istri meminta khulu’.  Di antaranya adalah:

  1. Tidak suka kepada akhlak/perangai suami.  Akhlak merupakan perhiasan batin.
  2. Tidak suka kepada fisik/jasmani suami yang.
  3. Adapun fisik merupakan perhiasan lahir.
  4. Adanya kekurangan pada agama suami.
  5. Adanya kekhawatiran dari istri tidak bisa menjalankan kewajibannya kepada suaminya, atau murka/marah kepada suaminya.

Maka, apabila keadaan di atas terjadi pada istri, syariat memperbolehkannya untuk melepaskan diri dari ikatan pernikahan dengan melakukan khulu’.

DALIL KHULU’ 
Dalil atas disyariatkannya khulu’ adalah al-Quran, as-Sunnah, dan ijma’.

Adapun al-Quran adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” [al-Baqarah: 229]

Adapun dalil dari as-Sunnah adalah hadits Ibnu Abbas bahwa istri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berucap, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Zaid pada perangai dan agamanya, tapi aku tidak mau kufur (terhadap suami) dalam Islam.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Apakah kamu mau mengembalikan kebunnya (mahar)?’ Dia menjawab, ‘Mau’.
Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Tsabit, ‘Ambillah kebun itu (mahar), lalu ceraikan dia.’  Tsabit pun mengambil maharnya, lalu menceraikannya. [HR. al-Bukhari]

Demikianlah gambaran khulu’, seorang istri tidak suka/cinta kepada suaminya, dan dia khawatir tidak bisa menunaikan hak-hak suaminya.
Di saat itulah, syariat memperbolehkan istri untuk menebus dirinya dengan memberikan tebusan khulu’ kepada suaminya.

SIAPA YANG MEMBAYAR TEBUSAN? 
Yang membayar tebusan itu bisa siapa saja; baik itu istri, atau sebagian kerabatnya seperti: ayah, saudara, anak, paman, ataupun orang lain.
Jadi tidak dipersyaratkan harus istri yang membayar tebusan khulu’.

Berapakah besarnya tebusan yang harus dibayarkan istri?
Bagaimana kalau tebusan itu lebih sedikit, sama, atau lebih banyak dari mahar yang telah diberikan suami?

Nantikan pada tulisan bagian ketiga, insya Allah.

Wallahu a’lam bish shawab.

Fawaid dari dars Manhajus Salikin bab: al-Khulu’,
oleh Syaikhuna Abdurrahman al-’Adeny hafizhahullah Ta’ala di Markiz Daril Hadits al-Fiyush.
Semoga Allah Ta’ala selalu menjaganya dari segala makar, dan keburukan.

Sumber: Forumsalafy.net (whatsapp Salafy Indonesia)