Melampiaskan Dendam Termasuk Perkara Yang Memperparah Fitnah

DendamMELAMPIASKAN DENDAM TERMASUK PERKARA YANG MEMPERPARAH FITNAH

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah

Diantara penyakit yang sangat berbahaya yang menyebar di masa fitnah adalah melampiaskan dendam atau kemarahan pribadi dengan dalih-dalih yang sangat lemah. Lebih dari satu pakar sejarah menyebutkan bahwa salah seorang dari kelompok Khawarij ada yang pernah ditanya: “Berapa kalikah engkau menikam Utsman bin Affan radhiyallahu anhu?” Dia menjawab: “Sembilan kali; tiga kali karena Allah, dan enam kali untuk melampiaskan apa yang ada di dalam hatiku.”

Saya katakan: seandainya pelaku tersebut diselidiki lebih jauh, niscaya akan didapati bahwa semua itu dia lakukan semata-mata karena melampiaskan kemarahan pribadinya.

Ibnul Maajisyun menceritakan: “Sa’id bin Sulaiman memberikan kesaksian di persidangan yang dipimpin oleh Ibnu Imran Ath-Thalahy ketika Ibnu Imran ini menjabat sebagai hakim, lalu Ibnu Imran menolak kesaksiannya. Ketika di kemudian hari Sa’id diangkat menjadi hakim, giliran Ibnu Imran yang memberikan kesaksian di persidangan yang dipimpin Sa’id bin Sulaiman. Maka dia memperhatikan kesaksian Imran lalu berfikir sejenak, setelah itu dia mengatakan kepada juru tulisnya: “Terimalah kesaksiannya wahai Ibnu Dinar, karena seorang mu’min tidak akan melampiaskan dendamnya kepada saudaranya sesama mu’min.”  [1]

Demikianlah, seorang mu’min tidak akan melampiaskan dendamnya kepada saudaranya sesama mu’min. Jadi melampiaskan kemarahan pribadi merupakan kuburan bagi ukhuwwah (persaudaraan). Dan jika seseorang melampiaskan dendamnya kepada saudaranya, dia akan menganggap saudaranya tersebut sama sekali tidak memiliki kebaikan, kesalehan, dan ilmu yang bermanfaat, sehingga engkau akan menjumpainya memusuhi saudaranya hanya gara-gara sebab yang sangat sepele.

Tentunya tidak tersamar bagi Anda wahai saudara muslim yang mulia; perbedaan antara membela diri dan melampiaskan kemarahan atau dendam pribadi. Jadi membela diri dilakukan ketika seseorang terzhalimi. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيْلٍ.

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.” (QS. Asy-Syura: 41)

Juga firman-Nya:

وَالَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُوْنَ.

“Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim, mereka membela diri.” (QS. Asy-Syura: 39)

Itupun dilakukan dengan sikap adil disertai ajakan untuk memaafkan dan bersabar terhadap pihak yang berbuat zhalim. Bahkan yang afdhal bagi seorang muslim adalah bersabar jika dengan membela diri akan menyebabkan fitnah atau fitnah yang telah ada akan semakin dahsyat. Adapun melampiaskan dendam atau kemarahan pribadi, maka itu merupakan kezhaliman dan tindakan aniaya. Semoga Allah melindungi kita darinya.

Keterangan:

[1] Tartiibul Madaarik (I/295) pada biografi Al-Qadhy Sa’id bin Sulaiman Al-Maliky.

Sumber artikel:
Tanbiihul Hasan Fii Mauqifil Muslim Minal Fitan, terbitan Daarul Imam Ahmad, hal. 49-50

Alih bahasa: Abu Almass
Rabu, 22 Rajab 1435 H

Sumber: Forumsalafy.net

Leave a Reply