Nasehat Untuk Saudara-saudara yang berada di Front-front Tempur Melawan Rafidhah Hutsiyyin

MANHAJ

Dammaj1Asy-Syaikh ‘Ubaid bin Abdillah bin Sulaiman al-Jabiry Hafidzahullahu Ta’ala :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبركاته
الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ وصلى اللهُ وسَلّمَ على نَبِيِّنا محمدٍ على آلِهِ وعلى صحْبِهِ أجمَعِينَ
أما بَعْدُ

Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, Wa Shallallahu Wa Sallama Ala Nabiyyina Muhammad Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Ajmain. Amma Ba’du :

Sungguh sangat membahagiakan diriku berita kemenangan yang didapatkan Ahlus Sunnah wal Iman di negara tetangga kita tercinta, yaitu negeri Yaman.  Berita tentang perlawanan dari Ahlus Sunnah menghadapi permusuhan orang-orang Hutsiyyin yang Kafir Syi’ah Rafidhah Bathiniyyah.

Aku masih bersikap sama sebagaimana yang telah aku fatwakan sebelumnya, bahwa tindakan ini merupakan bagian dari al-Jihad Fii Sabilillah, bahwa bagi penduduk daerah-daerah tersebut yang menjadi front tempur, yaitu dalam bentuk pertempuran melawan musuh, ini hukumnya Fardhu ‘Ain bagi tiap orang yang sudah aqil Baligh dan mampu bertempur. Adapun bagi penduduk Yaman lainnya ini hukumnya Fardhu Kifayah. Demikianlah yang aku yakini.

Dalam perkara ini ada beberapa hal yang aku nasehatkan teruntuk saudara-saudaraku dan anak-anakku para mujahidin, semoga Allah menambah pertolongan dan taufiq kepada mereka. Serta menguatkan semangat dan tekad mereka.

Sebagai bentuk peringatan :

Pertama :

Setiap muslim secara umum hendaknya mengetahui, demikian pula semua pasukan mujahidin yang tengah berjihad Fii Sabilillah secara khusus, bahwa amir (pimpinan) pasukan ataupun komandan perang di medan laga, wajib untuk didengar dan ditaati. Tidak boleh melanggar perintah-perintahnya. Ini berlaku bagi amir yang benar-benar diangkat sebagai pemimpin oleh saudara-saudaranya, atau dia sendiri yang menyatakan diri sebagai pemimpin yang kemudian dia diikuti oleh saudara-saudaranya karena keahlian yang ada padanya, sebagai tanda persetujuan atas kepemimpinannya, atau dia sebagai pengganti dari pemimpin sebelumnya. Ketentuannya tidak berbeda meskipun kondisi pimpinannya berbeda. Karena dia berposisi sebagai amir, dan dalam hal ini dia menempati kedudukan khalifah, atau pimpinan muslim yang mengutus pasukan.

Kedua

Pada kita ada Kitabullah al-’Aziz (yaitu al-Qur`an), tidaklah seorang muslim atau muslimah yang mendengarnya kecuali akan semakin bertambah kuat tekadnya, semakin kokoh semangatnya, dan tinggi semangat juang untuk membela Agama Allah. Dan bukanlah saya menganjurkan kaum wanita untuk terjun hadir dalam pertempuran, akan tetapi saya sebutkan juga kaum wanita (muslimat) karena kebetulan ada hubungannya, karena bagi seorang wanita muslimah, mukminah, dan memiliki kecemburuan dalam membela Agama Allah, bisa menyemangati kaum pria sebagaimana telah diketahui, dan menumbuhkan semangat juang dalam jiwa Mujahidin.

Sebagaimana Ayat-ayat berikut ini yang telah Allah turunkan (artinya) :

((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلا تُوَلُّوهُمُ الأَدْبَارَ* وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ))

“Wahai sekalian orang-orang yang beriman, apabila kalian berjumpa dengan orang-orang kafir berhadapan (dalam peperangan), janganlah kalian melarikan diri ke belakang. Barangsiapa yang berbalik mundur, selaian dalam rangka mengatur siasat perang, atau bergabung bersama pasukan lainnya, maka sungguh dirinya telah pulang membawa kemurkaan dari Allah”.

Ini merupakan peringatan dari Allah bagi semua Mujahidin yang maju membela saudara-saudaranya yang berada di medan tempur, berhadapan dengan musuh yang kewajiban bagi mereka adalah fardhu kifayah. Namun dirinya tidak boleh mundur menarik diri dari medan tempur setelah dirinya mengambil posisi dalam barisan pasukan perang, dan dalam kondisi dirinya sudah disiapkan dalam posisi yang dibutuhkan dari pihak komando tempur global yang dia bergabung padanya.

Para ‘Ulama dan para imam telah menyebutkan, bahwa jihad menjadi Fardhu ‘Ain dalam beberapa keadaan, diantaranya : ketika berhadap-hadapan langsung dengan musuh, maka setiap elemen pasukan yang terjun dalam pertempuran demi menolong saudara-saudaranya, membela mereka, dan mempertahankan wilayah  as-Sunnah dan Ahlus Sunnah, serta dia telah berdiri di posisinya masing-masing, maka jihad itu hukumnya Fardhu (Ain) atasnya, karena itu termasuk kondisi telah berhadap-hadapan dengan musuh. Maka yang seharusnya dikerjakan oleh Ikhwan semua agar semakin menguatkan tekad, menambah semangat dalam rangka membela Agama Allah, mengharapkan pahala yang Allah siapkan disisinya untuk mereka, serta bersabar dengan mengharapkan ganjaran dari Allah Ta’ala.

Ayat kedua, padanya terdapat kabar gembira, yaitu Firman Allah Ta’ala (artinya):

((قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ))

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kalian terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (at-Taubah : 14)

(Perangilah mereka), dan kalian akan mendapatkan janji Rabbaniyyah, (yaitu)

– “Allah akan menyiksa mereka melalui perantaraan tangan kalian”,

– kedua “Allah akan menolong kalian atas mereka”,

– ketiga “Allah akan menghinakan mereka”,

– keempat “Allah akan melegakan hatinya kaum mukminin”,

Kalian semua wahai para mujahidin yang sedang berjuang melawan para mulhidin, yang semoga mereka mendapatkan laknat dari Allah berlipat ganda sampai datangnya hari kiamat. Kalian sebagai para pembela as-Sunnah dan Ahlus Sunnah, dan kalian akan mendapatkan janji indah ini. Kalian harus bulatkan tekad, kuatkan cita-cita, yakin dengan janji dari Allah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengingkari janji-Nya.

Ketiga, yang aku pandang penting untuk diingatan

Aku peringatkan kembali, tidak boleh seorangpun pergi mundur berbalik dengan mencari-cari udzur (alasan) dari beragam udzur yang ada. Kecuali apabila komandan pasukan mau menerima udzurnya, ataukah komandan front tempur sebagaimana diistilahkan, dan tidak ada masalah dengan istilah. Maka apabila amir mau menerima (udzurnya) maka ini lain perkara, ini adalah bentuk kesempurnaan atas ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Penjelasan hal tersebut adalah, sesungguhnya Allah Ta’ala dan juga Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan untuk mendengar dan taat kepada Amir. Komandan pasukan ataupun Komandan Front tempur masuk dalam makna ini secara langsung. Maka hendaknya para Mujahidin tetap bertahan berjuang Fii sabilillah bersama pemimpin mereka, saling tolong menolong, kuat menguatkan, bergotong royong dengannya, bagaimana pun kondisinya, baik kondisi yang tidak menyenangkan, kesulitan, dan yang lainnya. Apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala maka itu lebih baik dan lebih kekal.

Inilah nasehat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan untuk menyampaikan dan mengarahkannya kepada anak-anakku dan saudara-saudaraku Mujahidin Fii Sabilillah yang bergelut melawan para MulhidinHutsiyyin dan orang-orang yang bersama mereka. aku tetap bersikap seperti sebelumnya, yaitu para mujahidin tetap bertahan (di medang tempur) sampai Pemerintah bisa mengambil tindakan tegas dengan kekuatan kenegaraannya untuk menghancurkan dan memusnakan kekuatan mereka.

وصلى اللهُ وسَلّمَ على نَبِيّنا مُحَمَدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ أجَمَعِينَ

Disampaikan sendiri oleh ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman al-Jabiri, dari Kota Madinah an-Nabawiyyah, Ba’da Maghrib Selasa, 30 Muharram 1435 H (3 Desember 2013 M)

 

Screenshot_2013-12-04-11-05-07-1

audio disini

DownloadAni02

 

هذا تَفريغٌ للكلمةِ الموجّهةِ إلى الإخوة في جبهات القتال ضد الرافضة الحوثيين للشيْخِ الوالدِ عبَيْدٍ الجابريّ – حفظهُ الله ، ونَفعَ بهِ-
الحمد لله ربِّ العالمين والصَّلاة والسَّلام على نبيِّنا محمد و على آله وصحبه وسلَّم
أمّا بعدُ
فهذا تَفريغٌ للكلمةِ الموجّهةِ إلى الإخوة في جبهات القتال ضد الرافضة الحوثيين للشيْخِ الوالدِ عبَيْدٍ الجابريّ – حفظهُ الله ، ونَفعَ بهِ-
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبركاته
الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ وصلى اللهُ وسَلّمَ على نَبِيِّنا محمدٍ على آلِهِ وعلى صحْبِهِ أجمَعِينَ
أما بَعْدُ
فإنّهُ قَدْ سَرَّني ما بلَغَنِي مِنَ انتِصارِ أهْلِ السُنَّةِ والإيمانِ في جارتِنا الحَبِيّبةِ ” اليمنِ” حَالَ تَصَّديهم لِصّدِ عُدوانِ الحوُثيّين الكَفَرَةِ الراِفضَة البَاطِنِيّةِ .
وأنا على ما أفتَيْتُ بهِ أولَ الأمْرِ مِنْ أنّ هذا مِنَ الجِهادِ في سَبِيلِ اللهِ ، وأنّهُ على أهْلِ تلكَ المناطِقِ التي بها الجَبَهاتِ وهي وِجَاه العدوّ فرضُ عيْنٍ على كُلِّ فَرْدٍ بالغٍ عاقلٍ قادِرٍ ؛وأنّهُ على بقيّةِ أهْلِ اليَمَنِ فَرْضُ كِفَايَةٍ ؛ هذا ما أدِينُ اللهَ بِهِ .

وهاهنا عِدةُ أُمورٍ أرى مِنَ النَّصِيحَةِ لإخْواني وأبْنَائي المُجاهِدِينَ – زادَهُم اللهُ نَصْرًا و تَوْفِيقًا وشَدَّ أزْرَهُم وقَوى عزائِمَهُم – التَنَبُّه إليها

الأمْرُ الأولُ :
ليعْلَمَ كُلُّ مُسْلِمٍ ” عامَةً” وكُلُّ مجَاهِدٍ يجَاهِدُ في سَبِيلِ اللهِ ” خَاصًة” أنَّ أميرَ السَريّةِ أو قائدَ الجَبْهَةِ يجبُ لهُ السَمْعُ والطاعةُ ، ولا تَجوزُ مخالَفَةُ أوامِرهِ سواءً كانَ هو القائِدُ الأصل مَنْصُوبًا مِنْ قِبَلِ إخْوانِهِ أو هو نَصِبَ نَفْسَهُ وتَبِعَهُ إخْوانُهُ على ما هو عَلْيه إقرارًا لِتَنْصِيبِهِ نَفْسَهُ أو كانَ خَليِفَةً بَعْدَ القائدِ الأولِ ، فلا يَخْتَلِفُ الحالُ باخْتِلافِ القُوادِ ، لأنّه أمِيرٌ وهو في هذا نائبُ منابِ الخَليْفَةِ، أو الحاكِمُ المُسْلِمُ الذي بَعَثَ السَرِيّةَ .

الأمْرُ الثاني:
لديّنا مِنْ كتابِ اللهِ العَزيزِ ما إنْ يسْمَعَهُ مسْلِمٌ ولا مُسْلِمَةٌ إلا وتَقْوى عَزِيْمَتُهُ ، ويشتَدُّ أزْرُه ويَتَحَمْسُ غَيْرَةً على دِّينِ اللهِ ، وليسَ هذا مِنْي حضّ للمُسْلماتِ على خَوْض المَعْركَةِ وإنّما ذَكَرْتُهُنّ استِطرادًا ؛ لأنّ للمرأة المُسْلِمَةِ المؤمِنَةِ الغَيُورِ على دِّينِ اللهِ مِنْ تَشْجِيعِ الرِجالِ ما هو معلومٌ، وبثِ الحماسِ فيهِم وها هي بعضُ الآياتِ مِنَ التَنْزيلِ الكَرِيمِ قال تعالى :
((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلا تُوَلُّوهُمُ الأَدْبَارَ* وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَبِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ))
وهذا تَنْبِيهٌ مِنَ اللهِ لكُلِّ مجاهِدٍ انْبَرى لنُصْرَةِ إخْوانِهِ الذينَ كانَ الوقُوفُ في وجْهِ العَدوِّ كانَ فرضًا عليهم وهو فرضُ كِفايَةٍ عليهِ إلى أنَّهُ لا يَجوزُ لهُ أنْ يَنْسَحِبَ بعْدَ أنْ أخَذَ مكانَهُ في المُصافَةِ ، وهُيئ لهُ ما يَحْتَاجَهُ مِنْ قِبَلِ الجَبَهَةِ العامَةِ التي ينْتَمِي إليها؛ وذَكَرَ عُلَماؤنا وأئِمَتُنا أنّ الجِهادَ فرضُ عيْنٍ في أحوالٍ ومنها : “حالَ مصافَةِ العَدُوِّ “، فكُلُّ جُنْديّ مِنْ جُنوُدِ اللهِ الذينَ هَبّوا لِنُصْرَةِ إخْوانِهُم ، والذَبِّ عَنْهم ، والذَوْدِ عَنْ حِمَى السُنّةِ وأهْلِها ووقِفَ موقِفهُ فإنّهُ فرْضٌ عَليهِ لأنّهُ في حَالِ مُصَافَةٍ ؛ فالمطلوبُ مِنْ هؤلاءِ الإخْوةِ أنْ يزْدَادوا حماسًا وقُوةً نُصْرةً لدِّينِ اللهِ ، رَغْبَةً فيما عِنْدَهُ مِنَ الأجْرِ والثوابِ ، وعليهم الصبْر معَ الاحْتِسابِ.

الآيةُ الثانيةِ وفيها البِشارة الثانية هي: قولُهُ تعالى :
((قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ))

((قاتِلُوهُم))، والوعُودُ الربَّانِيّةُ: ((يُعَذِّبْهُمُ اللّهُ بِأَيْدِيكُمْ)) الثاني ((وَيُخْزِهِمْ )) وثالث ((وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ)) والرابع ((وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ))، فأنْتُم يا معشرَ المجاهِدِينَ الصادِّينَ عُدْوانَ هؤلاءِ المُلْحِدِينَ عليْهِم لعائِنُ اللهِ المُتَتَابِعةِ إلى يومِ القِيامَةِ ،[ فأنْتُم ] حُماةُ السُنّةِ وأهْلِها موعُودونَ بِهذهِ الوعُودِ ؛ فلتَشْتَدَّ عزائِمُكُم ، ولتَقْوَ هِمَمُكُم تِقَةً بِوعْدِ اللهِ فإنّهُ – سُبْحانَهُ وتَعَالى لا يُخْلِفُ المٍيعَادِ .
الأمْرُ الثالِثُ الذي أرى التَنْبِيهَ إليهِ :
أنَّهُ لا يَجُوزُ لأحَدٍ أنْ يَنْصَرِفَ بأي عُذْرٍ مِنَ الأعْذَارِ إلا إذَا اقْتَنَعَ [بِعُذِرِهِ] أميرُ السَرِيّةِ أو قائِدُ الجَبْهَةِ كما يُسَمَى ولا مُشاحَة في الاصطِلاحِ ؛ فإذَا اقْتَنَعَ فهذا أمْرٌ آخَر وهذا مِنْ تمامِ الانْقِيَادِ للهِ ولرَسُولِهِ وإيضاح ذلِكُم أنّ اللهَ – سُبْحَانَهُ وتَعَالى – قَدْ أوجَب ورسُولَهُ – صلى اللهُ عليهِ وسَلّمَ – السَمْعَ والطاعَةَ للأمِيرِ، وأميرُ السريةِ أو قائِدُ الجَبْهَةِ يَدْخُلُ في هذا – في هذا العَصْرِ – دُخُولًا أوليًّا ، ليَبْقَ المجاهِدونَ في سَبيلِ اللهِ معَ أمَرائهم مسانِدِينَ ومآزِرِينَ ومناصِرِينَ مهمَ يَكُنِ الحالُ مِنَ الأثَرةِ والشِدَّةِ وغَيْرِ ذَلِكَ ، فما عِنْد اللهِ – سُبْحانَهُ وتَعَالى – هو خَيْرُ وأبْقَى
هذا ما يَسَّرَ اللهُ – سُبْحانَه وتعالى – مِنْ إرسالهِ وتَوْجِيَهُ لَأبْنَائي ، وإخِواني المجاهِدِينَ ، في سَبِيلِ الله دَحْضًا لِعُدْوانِ المُلّحِدِينَ والحوثِيّينَ ومَنْ شايَعَهُم ؛ وأنا على ما أسْلَفْتُهُ مِنْ بقَائِهِم على ذلِكَ حتى يَبْسُطَ الحاكِمُ قُوَتَهُ الرادِعَةَ التي تَصُدُّ عُدْوانَ هؤلاءِ وتَقْهَرَهم وتَكْسُرَ شَّوكَتِهم .

وصلى اللهُ وسَلّمَ على نَبِيّنا مُحَمَدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ أجَمَعِينَ

Sumber: Dammajhabibah.net