Salafy Sorowako

Radio Suara Sunnah Sorowako || Menebarkan Ilmu Berdasarkan Al-Qur'an dan As Sunnah

Sep

13

PENGHALANG-PENGHALANG DALAM MENUNTUT ILMU – bagian 5

By salafysorowako

Penghalang ketujuh :  “TERGESA-GESA UNTUK MENUAI HASIL”

Penulis (Syaikh ‘Abdussalam rahimahullah) berkata:

يظن بعض الطلبة أن العلم لقمة سائغة أو جرعة عذبة ، سرعان ما تظهر نتائجها ، وتتبين فوائدها .  فيؤمل في قرارة نفسه أنه بعد مضي سنة أو أكثر أو أقل – من عمره في الطلب – سيصبح عالماً جهبذاً ، لا يدرك شأوه ، ولا يشق غباره .

“Sebagian penuntut ilmu menyangka bahwa ilmu itu seperti satu suapan yang lezat dan satu teguk yang segar, yang akan segera menampakkan hasil dan terlihat faedah-faedahnya.

Maka terbayangkan dalam lubuk hatinya bahwa setelah melalui satu tahun atau lebih atau kurang dari setahun – dari umurnya dalam menuntut ilmu – dia akan menjadi seorang ‘alim yang tangguh, tidak tertandingi ketinggiannya, dan tidak punya cacat.”

وهذه نظرة خاطئة وتصور فاسد ، وأمل كاسد أضراره وخيمة ، ومفاسده عظيمة ، إذ يفضي بصاحبه إلى ما لا تحمد عقباه ، من القول على الله بغير علم ، والثقة العمياء بالنفس ، وحب العلو والتصدر … وينتهي مطافه بين هذه الأشياء إلى هجر الانتساب للعلم وأهله .

“Dan ini adalah pandangan yang salah, dan gambaran yang rusak, dan harapan yang tidak laku, mudharatnya sangat buruk, kerusakannya sangat besar, karena mengarahkan pelakunya pada perkara yang tidak akibatnya tidak terpuji, berupa berkata atas Allah tanpa ilmu, keyakinan buta terhadap dirinya, cinta kepada kedudukan yang tinggi dan suka tampil paling depan.

Dan hasil akhir baginya dengan perkara-perkara ini, adalah meninggalkan ikatan ilmu dan ahli ilmu.”

وقال الإمام الشافعي : لايبلغ في هذا الشأن رجل حتى يضر به الفقر ويؤثره على كل شيء.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

“Seseorang tidak akan mencapai hasil dalam bidang ini sampai kefakiran menimpanya, dan dia mendahulukan ilmu atas segala sesuatu.”

Syaikh ‘Abdussalam rahimahullah berkata:

وختاماً أذكر محاورة بين اثنين ، تبين قيمة العلم ومكانته العالية وأنه لا يحصل إلا لمن بذل فيه كل شيءٍ ، على حد قولهم : ( أعط للعلم كلك يعطيك بعضه).

“Sebagai penutup, aku akan menceritakan perbincangan antara dua orang yang menjelaskan harga ilmu dan kedudukannya yang tinggi dan bahwasanya ilmu tidak didapatkan kecuali bagi yang mencurahkan segala kemampuannya sebagaimana ucapan mereka :

“Berikanlah seluruh jiwamu untuk (menuntut) ilmu, barulah ilmu memberi sebagian dari dirinya untukmu.”

قال رجل لآخر : بم أدركت العلم ؟   قال : طلبته فوجدته بعيد المراد ، لا يصاد بالسهام ، ولا يرى في المنام ،ولا يورث عن الآباء والأعمام.  فتوسلت إليه بافتراش المدارِ ، واستناد الحجر ، وإدمان السهر وكثرة النظر ، وإعمال الفكر ومتابعة السفر ، وركوب الخطر : فوجدته شيئاً لا يصلح إلا للغرس ولا يغرس إلا في النفس ، ولا يسقى إلا بالدرس .  أرأيت من يشغل نهاره بالجمع ، وليله بالجماع هل يخرج من ذلك فقيهاً ؟ كلا والله .  إن العلم لا يحصل إلا لمن اعتضد الدفاتر ، وحمل المحابر ، وقطع القفار ، وواصل في الطلب الليل والنهار.

Berkata seseorang kepada yang lainnya:  “Bagaimanakah engkau mendapatkan ilmu”  Dia menjawab…  “Aku mencarinya, maka aku temukan dia berada di tempat yang sangat jauh untuk ditempuh. Tidak bisa diburu dengan anak panah. Tidak bisa diraih dalam impian. Tidak diwarisi dari Bapak ataupun Paman.

Maka aku berusaha ke sana dengan beralaskan peredaran waktu, bersandarkan batu. Senantiasa begadang dan banyak meneliti. Mengerahkan pikiran dan menempuh perjalanan, serta melintasi bahaya.

Lalu aku menemukannya sebagai sesuatu (sebuah benih), yang tidak pantas untuk disia-siakan kecuali harus ditanam. Tidak ditanam kecuali dalam jiwa. Dan tidak disiram kecuali dengan belajar.

Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang sibuk di waktu siangnya untuk mengumpulkan harta, lalu malam harinya sibuk berjima’ dengan istrinya. Akankah keluar dari orang-orang semacam itu seorang yang faqih? Sekali-kali tidak. Demi Allah!

Sunguh ilmu tidak diperoleh kecuali dengan memeluk buku-buku catatan, memikul tinta-tinta, berbekal potongan roti, dan terus memburunya di malam dan siang hari.”


عوائق الطلب، تأليف : عبد السلام بن برجس بن ناصر آل عبد الكريم رحمه الله

Sumber: WA Fawaid Salafy Wawondula

Leave a comment