Tebusan Dalam Khulu’ (Bagian ketiga)

 

Tebusandalamkhulu(3)TEBUSAN DALAM KHULU’ 

(Bagian Ketiga dari Pembahasan Khulu’ dalam Islam)

Pembaca rahimakumullah…
Pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang tebusan dalam khulu’, apakah tebusan itu harus sama dengan mahar yang telah diberikan oleh suami kepada istrinya, dan bagaimana kalau tebusan itu lebih sedikit, atau lebih banyak?
Mari kita ikuti pembahasan berikut ini.

Pembaca a’azzaniyallah wa iyyakum…
Dalam hal tebusan, Syaikhuna Abdurrahman al-’Adeny hafizhahullah Ta’ala membagi
menjadi tiga gambaran:

1. Suami memberikan mahar kepada istrinya, misalnya (dalam rupiah, -pen): Rp. 5000.000,-.
Ketika istri meminta untuk berpisah (khulu’), mereka bersepakat agar pihak istri memberikan tebusan sebesar Rp. 2000.000,-.
Berarti pihak istri memberikan tebusan dengan nilai yang lebih sedikit dari mahar yang diberikan suami.
Hukum dalam hal ini adalah boleh/ tidak mengapa.

2. Apabila mereka bersepakat agar istri memberikan Rp. 5000.000,-, hal ini juga boleh/tidak mengapa.

3. Jika suami meminta lebih banyak dari mahar yang dia berikan, yakni dengan mengatakan, “Aku tidak akan mau menceraikan kamu, kecuali dengan tebusan sebesar Rp. 8000.000,-
Apakah boleh bagi suami untuk mengambil kelebihan yang senilai Rp. 3000.000,- itu?

Kalau memang kelebihan itu diberikan oleh pihak istri dengan keridhaan/kerelaannya, tanpa ada paksaan dari suami, perkaranya jelas (boleh).

Tapi, kalau suami memaksa/mengharuskan istri untuk membayar lebih dari mahar yang dia berikan, terjadi khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan para ulama, apakah suami boleh mengambil kelebihan itu atau tidak.

Yang dirajihkan oleh Syaikhuna Abdurrahman al-’Adeny hafizhahullah Ta’ala, hal itu tidak diperbolehkan, karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.” [al-Baqarah: 229]

Dalam ayat di atas (dan kelanjutannya), Allah Ta’ala memperbolehkan suami untuk mengambil/menerima tebusan hanya pada perkara khulu’ saja.

Maka, suami tidak boleh memaksa dan mengharuskan istri untuk memberikan yang lebih dari mahar yang dia berikan.

Dari ayat di atas, bisa dipahami pula bahwa Allah melarang suami untuk mengambil kembali mahar yang diberikan kepada istrinya kecuali pada satu keadaan saja, yaitu khulu’.

Sehingga kalau suami memaksa/mengharuskan istri untuk memberikan tebusan yang lebih banyak (dari apa yang telah diberikan suaminya), hal ini termasuk kezaliman kepada istri.

Maka, hendaknya suami takut kepada Allah Ta’ala, dan tidak terlalu menyusahkan istri.
Wahai suami,
berbuat baiklah kalian kepada istri, baik ketika merujuknya atau ketika menceraikannya.
Semoga Allah Ta’ala menggantikan semua musibah yang menimpa dengan yang lebih baik, di dunia dan akhirat, tentunya dengan kesabaran, perbuatan baik, dan juga rel syariat yang selalu kita tempuh, baik dalam keadaan suka maupun duka, sampai Allah menjemput ajal kita.

Bersambung, insya Allah…

Wallahu a’lam bish shawab.

Fawaid dari dars Manhajus Salikin bab: al-Khulu’,
oleh Syaikhuna Abdurrahman al-’Adeny hafizhahullah Ta’ala di Markiz Daril Hadits al-Fiyush.
Semoga Allah Ta’ala selalu menjaganya dari segala makar, dan keburukan.

Faidah dari Al Ustadz Abu Umar Ibrohim Fiyuz Yaman

Sumber: Forumsalafy.net